Kamis, 13 Maret 2014

NARKOBA Membawa Sengsara

Ransel dan barang bawaan telah siap, kali ini perjalanan dilakukan sendirian menuju wilayah   Timur. Stasiun saat itu sangat penuh oleh lalu lalang orang, ada yang datang dan ada yang pergi. Kereta yang ditunggu pun belum juga tiba, terlihat sosok seorang perempuan duduk tak jauh sejajar denganku. Bandung cukup panas saat itu, waktu telah beranjak siang. Semakin lama semakin kosong akhirnya ibu itu pun bergeser persis bersebelahan denganku.

Terlihat sekilas diraut wajahnya ada sesuatu yang ingin disampaikan. Cerita pun mengalir begitu saja.
Anaknya yang kuliah disalah satu perguruan Negeri di Yogyakarta sedang mengalami kesulitan dan berurusan dengan hukum. Kutatap wajahnya yang menerawang entah kemana dan dengan seksama kuikuti cerita dan sebenarnya apa yang teah terjadi.

Anaknya seorang laki-laki yang baik, sebentar lagi akan menyelesaikan studinya di Yogyakarta.
Singkat cerita anaknya berkenalan denga seorang perempuan yang kuliah di salah satu sekolah pemerintahan di Jatinangor.  Sebut saja namanya Ria dan anak Ibu itu Angga. Mereka saling berkenalan dan akhirnya sering jalan bersamaan. Sebelum kejadian naas itu semua seperti baik-baik saja. Perempuan itu yang mengaku berasal dari salah satu desa di kota Yogyakarta, itu terlihat setelah diketahui saat KTPnya ditunjukan sama anak ibu tersebut.

Akhirnya suatu  saat sewaktu Angga liburan kuliah, dia memutuskan untuk jalan-jalan ke wilayah seputar Sumedang dengan perempuan itu. Menikmati makanan seperti biasa, namanya ditempat makan bukan hanya mereka berdua yang ada, yang lainnya pun sama-sama menikmatinya makanan yang tersaji di sana. Angga sendiri tinggal di salah satu tempat setelah Bandung Timur dan masih termasuk Kabupaten Bandung.
Tiba-tiba, ada seorang lelaki yang datang menghampiri mereka berdua dan menitipkan sebuah bungkusan seperti kotak kado berukuran sedang. Angga dan Ria pun masih menunggu orang yang menitipkan bungkusan tersebut, setelah lama orang itu tak muncul-muncul  juga akhirnya Ria memutuskan untuk pamit ke belakang dan tak datang lagi.

Angga pun kebingungan ditinggal sendirian dengan bungkusan itu. Dia pun memutuskan untuk menitipkan bungkusan itu ke pemilik warung. Baru aja beberapa langkah, suara lantang dari arah belakang “Jangan bergerak, Anda kedapatan membawa Narkoba berjenis Ganja!” Dengan coba menjelaskan duduk persoalannya tapi mana mau aparat mendengarkan dan percaya begitu saja.
“Iya, dia pak, barusan yang menitipkan kotak ini kepada saya,” sahut pemilik warung itu.
Dengan langkah lunglai dan sosok perempuan itu juga ga tahu rimbanya, setelah diselidik dan dicari ke kampusnya tak ada yang namanya Ria. Kini Angga pun harus berurusan dengan hukum.
Saat ibu itu bercerita, terlihat ada air tertahan dipelupuk matanya yang tak kuat akhirnya jatuh juga. Tak bisa membantu banyak saat itu, yang kulakukan hanya bisa menenangkan ibu tersebut, semua pasti ada jalan keluarnya.

Sampai sekarangpun aku belum pernah bertemu ibu itu lagi entah bagaimana nasib anaknya yang saat itu berurusan dengan aparat hukum daerah Sumedang.
Kereta yang ditunggu pun akhirnya datang, selalu ada makna dalam setiap perjalanan.
Narkoba selain bisa menyengsarakan pemakainya yang kecanduan  tanpa ujung dan ternyata bisa menyengsarakan orang yang tidak tahu apa-apa.

Ganja di Indonesia termasuk barang Ilegal, pelaku dan pengedar diperlakukan sebagai tindak kriminal. Apapun alasannya itu tetap diproses secara hukum dan sesuai aturan yang ada di pihak yang berwajib. Para pemakai dan pengedar selalu menjadi TO (Target Operasi) pihak kepolisian.
Badan Narkotika Nasional sendiri mempunyai tujuan di tahun 2014 ini sebagai Tahun Penyelamatan Pengguna Narkoba.

Mari membahas  tentang tanaman ganja yang kebetulan berada dalam isi kotak  cerita di atas yang bisa menyebabkan berurusan dengan hukum.
Ganja yang biasa disebut dengan mariyuana dan mempunyai nama latin Canabis Sativa ini adalah tanaman budidaya penghasil serat, ada kandungan Narkotika didalamnya yaitu pada bijinya yakni Tetrahidrokanabinol (THC) yang bisa membuat pemakainya merasa senang berkepanjangan dan tanpa sebab. Biasa tumbuh di dareah pegunungan  tropis pada ketinggian 1000 meter di atas laut. Di Indonesia sendiri tanaman ini tumbuh subur dan banyak terdapat di Aceh. Bukan hanya omong kosong belaka, bahkan ganja juga dipakai sebagai campuran bumbu masak di sana.

Pengalaman saya waktu di Kalimantan Timur, karena terbiasa minum kopi hitam, waktu  pagi  saya diajak HRD yang menjadi klien di sana untuk sarapan pagi di sebuah rumah makan Nusantara khas Aceh, segelas kopi hitam cukup mewakili saat itu tanpa pesan makanan apa-apa. Reaksi baru terjadi 1 jam kemudian, entahlah beda dari biasanya dan saya juga tidak tahu apakah kopi tersebut dicampur ganja juga? Perlu diketahui bukan hanya baru sekali minum kopi Aceh, sebelumnya juga pernah dapat kiriman dari kawan tapi tak ada reaksi apa-apa.Di dunia medis sendiri tanaman ini dipakai sebagai obat penenang, tentunya dalam takaran-takaran tertentu yang disesuaikan.

Daun Ganja

Dalam Undang- undang  yang ada di Indonesia sendiri yang mengatur tentang Ganja adalah Narkotika, yakni UU No. 22 tahun 1997.
Efek samping dari ganja sendiri setelah berbicara dengan kawan yang pernah memakainya antara lain : Merasa gembira atau senang, kebanyakan di sini orang menggunakannya saat tertimpa masalah, seolah-olah masalah yang ada bisa terlupakan padahal ganja bukanlah pelarian dari permasalahan itu sendiri dan timbul rasa halusinansi saat memakainya.
Ganja biasa juga digunakan seperti rokok dengan istilah “melinting” menggunakan kertas pahpir yang biasa dipakai oleh para perokok tradisional saat zaman dahulu.

Semula dari kebiasaan merokok tembakau dan seterusnya dengan diawali coba-coba jadi keterusan menggunakan ganja. Di sini masyarakat dan keluarga ternyata harus  peka terhadap setiap keadaan dilingkungan rumah, sebelum semuanya terlambat. Narkoba memang selalu mengancam dimana-mana. []FR



======

Sumber :

Wikipedia.org
BNN
Indonesia Bergegas