Selasa, 04 Maret 2014

Dua Sahabat



Malam itu pesta selesai, semuanya telah berlalu. Sani dan Bintang, berjalan bersamaan. Jalanan Kota Bandung sangat sepi saat itu, udara dingin masih saja menyelinap masuk disela-sela jaket yang sudah kami kenakan. Waktu terus berjalan, Bintang pun memutuskan untuk menginap di rumah Sani. Tempat pesta dan rumah Bintang cukup jauh, kalau ditempuh menghabiskan kira-kira 3 jam perjalanan.

Orang tua kedua belah pihak sudah saling mengetahui, jadi persahabatan mereka lebih kearah kekeluargaan dan sudah menganggap satu sama lain seperti saudara. kami berdua menyempatkan diri untuk mampir sebentar ke warung tenda, dimana roti panggang dan pisang keju yang tersedia di sana cukup banyak dinikmati. Antrian pun silih berganti, semua saling bergantian antara pendatang dan orang-orang yang baru selesai menikmati hidangan di sana. Bukan masalah isi perut saat berada di sini, kami ingin mengingat masa-masa dulu, saat masih nonton konser tempat ini yang dijadikan Bintang dan teman-teman untuk berkumpul. Lelehan susu diatas tumpukan keju yang tebal disajikan bersama pisang yang tersaji utuh dipiring. Memainkan garpu dan pisau, satu persatu makanan itu sampai juga dimulut. Setelah Percakapan dirasa cukup, bahkan makanan yang tersaji di piring masih tersisa, kami memutuskan untuk langsung menuju rumah Sani.

Mobilpun melaju dengan lancar, sesampainya di rumah, semua penghuni telah tertidur lelap, pintu pagar dibuka perlahan, dan saat masuk ruangan tamu dalam keadaan gelap. Dengan perlahan-lahan berjalan, akhirnya kami menuju ruangan di lantai dua. Bintang pun tidur terpisah di kamar yang telah di sediakan. Beres-beres sebentar, karena besok masih ada acara lagi jadi semuanya dipersiapkan dengan baik isi dalam tas. Selesai bersih-bersih badan, tiba-tiba kamar di ketuk.
kagetnya minta ampun, saat itu Sani tiba-tiba merangkul badan aku dan hampir terjatuh.

“Maafkan aku, ada yang mau diceritakan sama kamu.” Sani berkata masih dalam isak tangisnya.

“Hei, kenapa ini, ada apa? kok tiba-tiba begini, tadi kita masih baik-baik saja.”

Mencoba menenangkan, saat tubuh Sani masih dalam dekapan tubuh sahabatnya.
Pelan-pelan berjalan, keduanya duduk menuju tempat tidur.
Setelah Sani duduk, Bintang pun bergegas menuju meja, dan diambilnya segelas air putih.

“Ini minum dulu!, tenangkan dulu …tariik nafas perlahan, baru kamu boleh cerita.” ucap Bintang sambil memberikan segelas minuman.

” Aku, mau buat pengakuan neeh ma kamu, hampir seminggu ini selalu pulang pagi dan menangis saatnya shubuh tiba.” ucap Sani.

“Trus masalahnya tuh apa? ”

“Tiap malam, sepulang ngantor…ke rumah hanya sebagai tempat transit aja, aku ga betah berada di rumah ini, dan langsung pergi ke tempat-tempat hiburan.”

Sontak aja Bintang kaget, soalnya belum pernah sahabatnya seperti ini tapi masih saja berusaha untuk bijaksana dalam bersikap.

“Aakuu…sudah berapa uang yang aku habiskan tiap malam, hanya untuk makanan dan minum-minum di sana dan aku sudah tak pedulikan semua.”

Bintang memahami, kenapa sahabatnya jadi seperti ini. kalau dipikir, dalam hidup Sani tak ada kekurangan apapun, materi berlimpah, kakak-kakanya pun hidup sukses dan maju. Yang paling disayangkan cuma satu, antar saudara seperti orang lain, mereka tak saling peduli satu sama lain. Ayah dan ibunya juga yang terlalu sibuk ngurusin pekerjaan, apalagi kalau bukan demi karier.
Beruntung hidup Bintang walau dikata sederhana, keluarga satu sama lain bersatu dan saling menyayangi.

“Aku sadar, bila saat shubuh tiba, aku pun menangis menghadapNya, tapi itu cuma sesaat … besoknya masih tetap pergi ke cafe-cefe.” kata Sani.

“Trus, kamu tuh dapat apa…tetep aja kan suasana di rumah tak berubah.” Bintag berkata.

Suasana pun larut dalam kesedihan, apa yang dialami Sani bisa Bintang rasakan. Akhirnya Sani tertidur di kamar Bintang.
Adzan shubuh pun berkumandang, saat terlihat wajah Sani masih tertidur lelap. Sudah menjadi kebiasaan, saat berada di rumah orang, harus menjadi orang yang pertama ke kamar mandi dan siap-siap mandi saat diluar langit masih gelap.
Saat mau menjalankan kewajiban, menghadapNya, Sani sudah terbangun dan kami sholat berbarengan.
Rupanya cerita tidak berhenti sampai semalam, dengan posisi seperti bersimpuh, tangan Sani tepat berada di atas paha.

“Bin…Bintang, kamu jangan marah yah, ada satu yang disembunyikan lagi dari kamu.” ucap Sani menatap Bintang.

“Aku make sudah sebulan ini.”

” OMG! hanya satu kata yang terucap dari mulut Bintang, kaget tapi Bintang tetap tak bisa marah.

” Hanya ini untuk mengusir kesepian aku.” saat satu bungkus putih bubuk halus dikeluarkan oleh Sani.

Deg! dari awal sudah menduga ada yang tidak beres dalam diri sahabatnya ini, dan sekarang baru terungkap.
Sani mulai menggunakan psikotropika jenis Shabu-shabu. Dalam pengakuannya baru sebulan ini dia kecanduan.
Masih dalam bimbingan Bintang, Sani pelan-pelan dikasih nasehat dengan tidak langsung menyalahkan apa yang telah diperbuatnya.

Bintang pun merahasiakan semua ini dari keluarga Sani, bukan tanpa alasan. Bila semuanya tahu akan berdampak lebih buruk lagi terhadap Sani. Sebagai sahabat  Bintang tidak berhasil mencegah sahabatnya dari jeratan Narkoba itu semua terjadi diluar pengetahuannya. Sekarang yang dilakukan Bintang bagaimana caranya menyelematkan Sani sebagai pengguna Narkoba. Dengan sabar Bintang setiap waktu selalu berada untuknya, baik secara offlne dengan komunikasi dengannya atau langsung bertemu saat keduanya weekend tiba. 
Sahabat yang selalu ada untuk kawannya, Bintang masih tetap setia menemani Sani dalam masa-masa untuk melepaskan diri dari kebiasaan buruknya. Perlahan namun pasti, akhirnya Bintang berhasil membantu Sani dari kebiasaan buruknya tersebut. Sahabat selalu ada dalam keadaan suka maupun duka, bukan hanya dalam kesenangan belaka.

Akhirnya persahabatan mereka masih baik terjalin, walau pun kini mereka berada di dua pulau yang berbeda. Upaya pencegahan dan penyelamatan narkoba bisa kita lakukan kepada siapa saja, terutama orang terdekat, yaitu sahabat. Sejauh ini Sani masih beruntung tidak pernah berurusan dengan hukum. Sebagai Sahabat Bintang hanya mengingatkan Sani, bila belum bisa berhenti sebaiknya direhabilitasi daripada nanti apa lacur saat memakainya tertangkap aparatur negara dan harus mendekam di penjara. Sebenarnya pengguna narkoba lebih baik di rehabilitasi daripada di Penjara. Di Tahun 2014 ini mari sama-sama menjadikan Indonesia sebagai Tahun Penyelamatan Pengguna Narkoba, ucap Bintang.[]