Kamis, 08 Mei 2014

Cerita Narkoba : Saat Masih Ada Jalan Terbaik


Sumber Foto : BNN

Semenjak sering menuliskan beberapa penggal kisah tentang Narkoba, dan itu dibuat bukan tanpa alasan, disini makin menyadari ternyata ada hal yang menjadikan seperti sebuah dorongan yang menjadi keharusan untuk selalu dituangkan  lewat tulisan dan jangan sampai ada lagi  saudara-saudara saya, Anda atau yang lainnya menjadi korban dari penyalahgunaan penggunaaan narkoba.
Sore hari saat di sebuah kantor kawasan Jakarta Selatan masih di bulan April 2014, dimana seorang Bapak yang menjabat sebagai direktur sebuah perusahaan swasta berjanji akan menceritakan sebuah kisah tentang penyalahgunaan narkoba. Yang semuanya berawal dari penyalahgunaan narkoba jadi berakibat fatal dalam kehidupan berikutnya. Semua akhirnya terkondisikan dalam waktu yang tepat, saat saya berbicara kembali dengan Bapak itu.
“Sore Pak”
 Dengan membawa sebuah minuman di cangkir berisi air teh hangat tentu saja bukan untuk siapa-siapa tapi untuk saya sendiri.
“Iya, ada apa Fit?”
“Gimana soal cerita yang tentang pengguna Narkobanya?”
“Owh, masih ya mau menuliskan, kirain sudah lewat gak akan dibahas lagi.”
“Masih Pak, soalnya saya juga kemarin-kemarin baru saja ikutan lagi Forum Grup Discusion (FGD) yang kedua  bertempat di Gedung Pusat Badan Narkotika Nasional.”
“Bukan apa-apa Pak, demi membantu  program BNN dalam gerakan anti narkoba juga dalam rangka usaha Pencegahan, Pemberantasan, Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkoba (P4GN) ini.”
Bapak itu masih berada di depan laptopnya, terlihat pikirannya melayang jauh mengingat-ngingat kejadian demi kejadian.
Beliau mulai menceritakan satu persatu dari runtutan sebuah peristiwa yang telah dialami oleh seorang temannya.
Saat cerita dimulai ada beberapa pertanyaan yang saya ajukan dan semua pun terangkum dalam sebuah kisah.
Seorang anak laki-laki yang sejak Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP) dari awalnya sudah bandel, merokok, dan main perempuan (menyukai banyak perempuan). Terlahir dari keluarga Militer, semua keluarganya baik-baik saja dan taat juga dalam beribadah malahan diantara kakaknya ada juga yang menjadi  pemuka Agama.
Dasarnya memang sudah bandel, sebaik apapun yang diberikan pengajaran dan pendidikan  dari orangtuanya, seperti sesuatu yang masuk kuping kiri dan keluar kuping kanan, numpang lewat seolah tidak ada yang mempan. Dia, sebut saja namanya AB tinggal disalah satu kompleks Militer disekitar Jakarta.
Kebiasaan merokok ternyata membawa pengaruh  buruk untuk menjadi seseorang yang coba-coba beralih dengan menggunakan ganja.Kebiasaan itu terus dilakukan saat masih menginjak bangku Sekolah Menengah Pertama. Untungnya  Sekolah pun dapat dilalui dan akhirnya bisa terselesaikan sampai masuk kesebuah jenjang perkuliahan. Dalam pergaulan banyak juga teman-temannya karena memang anaknya sangat gaul dan mudah berinteraksi dengan siapapun.
Saat kuliah pun AB sudah menjadi pemakai setia ganja, bahkan mungkin sudah menjadi sebuah candu dalam kesehariannya.  Pergaulan yang semakin luas, kemungkinan bukan hanya di satu kampus dalam menjalani pertemanan, di luar kampus pun teman-temannya semakin banyak. Dengan gaya hidup yang dijalaninnya  di sekolah dan diluar sekolah, ternyata banyak teman yang mendekatinya. Orangnya mudah bergaul dengan siapapun sehingga semakin hari semakin banyak teman-temannya. Hal ini mungkin dijadikan salah satu  jalan untuk memanfaatkan teman-temannya dalam menjalankan bisnis gelapnya sebagai pengedar barang-barang ilegal. Lama-kelamaan yang semula berawal  dirinya hanya seorang pemakai, kini  terus meningkat menjadi  seorang bandar dari narkoba itu sendiri. Tentu ini makin menjadikan dia  menambah dan mambuka pertemanan lagi karena untuk memasarkan barang dalam jaringan edaran perdagangan yang lebih luas lagi.
Barang –barang ilegal itu semua diambil dari seorang bandar. Saking banyaknya pesanan dan pasarnya yang luas lama kelamaan posisi yang semula jadi bandar kecil dengan mengambil kebandar besar ternyata jadi kebalik,si bandar besarnya jadi kalah saing sama dia dan akhirnya malah yang bandar besar yang pesan barang ke AB.  Selanjutnya pangsa pasar AB semakin besar, yang dulunya dia ngebandar ke orang kini bandar-bandar tersebut mengambil barang terus dan terus ke AB.
Kehidupannya setiap hari seolah-olah sedang menikmati surga dunia yang ada, semua bisa terpenuhi dengan mudah.
Entahlah, suatu waktu akhirnya mengalami apes juga, dan ini adalah sebuah jebakan. Tak disebutkan ini jebakan siapa untuk siapa, dari perbincangan saya dan bapak itu hanya bisa diambil kesimpulan “hanya sebuah jebakan”.
Hari apes itu pun datang kurang lebih sekitar tahun 1990-an dengan membawa pesanan barang dengan tujuan untuk dikirim ke Semarang, AB berhasil ditangkap di Semarang dengan barang bukti ganja seberat 21 KG. Semua sesuai prosedural dan harus menjalani aturan hukum-hukum yang berlaku. AB pun harus mengikuti persidangan dengan tuduhan atas barang bukti yang ada.
AB akhirnya mendapatkan vonis penjara. Semua mau tidak mau harus dijalani akibat ulah yang diperbuatnya. Saat mendekam di penjara, AB diminta bantuan oleh para polisi. AB seperti menjadi sebuah intel untuk Polisi saat itu. Dia dimintai keterangan bandar-bandar besar mana aja yang selama ini telah memasok dirinya dan para aparat keamanan negara pun langsung saja melakukan pengerebekan secara besar-besaran terhadap markas bandar-bandar besar narkoba ini. Salah satu penggerebekan membuahkan hasil dengan tertangkapnya bandar  besar juga, dan ternyata ini membawa efek yang kurang baik bagi AB, karena bandar besar tersebut telah mengetahui siapa yang telah membocorkan rahasia dia. AB seperti ketakutan dan seperti mendapatkan ancaman.
Setelah bebas dari tahanan, AB tidak langsung berhenti menggunakan ganja yang telah menjadi candu bagi hidupnya itu. Hari-harinya kini dia nikmati dengan menghisap bukan hanya ganja lagi tapi sekarang beralih ke shabu-shabu. Terus dan terus hal itu dia lakukan, nyabu lagi dan nyabu lagi.
Sampai akhirnya AB hari-harinya seperti dilanda phobia, ketakutan-ketakutan sering dia alami tanpa alasan yang jelas, setiap ada orang yang mendekatinya seolah-olah seperti akan membunuh dirinya atau sebagai musuh dan menjadi ancaman besar dalam hidupnya. Bukan tanpa rehabilitasi, semua itu pernah dijalankannya juga.
Paranoid kini yang dialami AB, sampai akhirnya entah mulainya kapan, tiba-tiba suatu malam saat dialagi sholat keringat dingin membanjiri tubuhnya, rasa takut itu datang lagi dan lagi sampai akhirnya di titik puncak penghabisan sampai dia pasrah minta tolong kepada Tuhan, di sini jalan terang itu dimulai.
Hidupnya yang menjadi seorang mualaf, dan hari-harinya AB jalankan sesuai dengan ajaran agama yang dia anut sekarang. Hari-harinya jauh menjadi lebih baik dan hidup berkeluarga dengan normal tanpa dihantui oleh rasa was-was lagi yang ada. Semua sedikit-sedkit kebiasaan lamanya yang buruk-buruk mulai dia tinggalkan.
Langkah ke depan masih panjang dan masih bisa untuk melakukan apa yang sewajarnya yang harus dilalui dalam hidup.
“Bohong kalau shabu-shabu itu enak dan kata siapa nyabu itu enak.”
Kata-kata ini sampai diulang dua kali, oleh seorang bapak yang ada di depanku sehingga membuyarkan lamunanku tentang cerita seorang kawannnya.
Ternyata masih ada jalan Tuhan disaat semua “titik hitam” yang ada bisa menjadikan “titik balik” dalam melangkah lagi ke depan.
Semua dalam penggunaan narkoba baik ganja maupun shabu-shabu mempunyai dampak yang tidak menguntungkan terutama buat tubuh kita sendiri.
Kita bisa lihat dari dampak penggunaan ganjanya sendiri :
-          Menjadikan hidup kita motivasinya rendah dan susah dikendalikan
-          Depresi dan paranoid
-          Gangguan persepsi dan berfikir
-          Gangguan keseimbangan tubuh
-          Sulit untuk konsentrasi
-          Apa yang kita lakukan menjadi lambat
Gejalanya pun bisa kita lihat dalam penggunaan ganja ini antara lain ; murung, tegang, mudah marah dan mempunyai rasa cemas yang berlebihan.
Sedangkan dampak dari penggunaan shabu-shabu sendiri :
-          Bisa merusak organ tubuh, menyebabkan gangguan fungsi hati, ginjal dan urat syaraf.
-          Perilaku menjadi abnormal dan mudah bingung
-          Berkhayal dan berhalusinasi
-          Menjadikan pemakainya mudah cemas dan marah
Gejalanya dalam penggunaan shabu-shabupun bisa jelas terlihat ;
-          Timbul rasa gelisah
-          Cemas, depresi dan marah
-          Susah tidur
-          Pernafasan menjadi pendek
-          Menyebabkan jantung berdebar
-          Hilang nafsu makan.
Overdosis dalam pemakaiannya akan menyebabkan kematian dengan pecahnya pembuluh darah di otak.
Akhirnya dari sebuah obrolan tentang pengalaman hidup seseorang, dalam setiap kejadian selalu ada hikmahnya. Dalam gelap pasti selalu ada cahaya terang yang akan menyinari.
Hidup yang terus berjalan dan masih panjang yang harus dilalui semoga semua generasi penerus bangsa saat ini dan kedepannya terbebas dari bahaya penyalahgunaan narkoba.
Dalam rangka partisipasi untuk Indonesia Bergegas, mari kita bantu BNN  mewujudkan Tahun 2014 ini sebagai Tahun Penyelamatan Bagi Pengguna  Narkoba.
Pecandu lebih baik di rehabilitasi daripada di penjara. [] FR

Salam Damai, Indonesia Bebas Narkoba!!