Rabu, 24 April 2019

Bahagia Tanpa Rokok

Credit foto by Okezone
Bahagia tanpa rokok? Bisakah?
Bisa, semua kembali pada diri sendiri.
Beberapa contoh, Lingkungan masyarakat di sekitar kita coba saja perhatikan  mulai dari ke luar rumah, saat di jalan pasti ada saja orang yang kita jumpai mereke sedang menghisap rokok walaupun dalam jumlah hitungan jari saja. Rokok sudah seperti makanan sehari-hari bahkan ada yang beranggapan seperti ini " Lebih baik merokok daripada makan".
Miris emang kalau melihat yang seperti itu. Tak jarang dijumpai merokok tidak hanya milik kaum Adam, bahkan sekarang kaum hawapun tanpa sungkan-sungkan mengepulkan asap rokoknya. Bukan hanya terjadi di kota-kota besar di desa pun sudah terjadi.
Jangan terlalu luas kita mengamati lingkungan sekitar tentang masalah rokok ini, coba perhatikan dulu mulai dari keluarga kecil yang ada di rumah. Bahkan di keluarga saya sendiri orang terdekatpun masih saja merokok tapi sekarang sudah dikurangi porsi rokoknya.
Mereka yang merokok walaupun sudah diberikan pengertian agar tidak lagi menghisap rokoknya masih tetap saja tidak peduli.

"Ayah jangan koko aja kan lagi batuk!"
Terkadang anak kecil saja sudah mengerti dan mengingatkan pada orang tuanya. Tapi yah namanya sudah kecanduan dikasih tahu bagaimana pun tetap saja ga kapok-kapok.
Jadi mengingat masa lalu saat di kantor Kemang, duh asap rokok di ruangan ber-AC bikin pusing kepala. Berbatang-batang rokok yang terkumpul di asbak hampir memenuhi seisi asbak di meja.

Ternyata Rokok tidak hanya menjadi PR bagi keluarga kecil tapi juga menjadi sorotan pemerintah.

"STOP MEROKOK"

Slogan ini bukan hanya di gaungkan kali ini saja sejak jaman masih dibangku SD pun sudah diingatkan .
Kadang selalu terlontar dari mulut orangtua kita.

"Jangan merokok sekarang, nanti kalau sudah bekerja silahkan!"

Kalau dicermati ya sama saja bohong, orang tua menjerumuskan anaknya secara tidak langsung. Di kota-kota besar menghisap sebatang rokok sudah menjadi hal yang lumrah atau mereka sudah menganggap sebagai trend dan lifestyle masa kini. Sebenarnya edukasi-edukasi tentang bahaya merokok sering kita jumpai, di rumah sakit, Puskesmas, kendaranan umum dan lain sebagainya.
Bahagia tanpa rokok.
Ternyata pemerintah peduli terhadap bahaya rokok ini. Melalui Ruang Publik radio KBR yang bisa kita dengar secara langsung di gelombang 89.2 FM. Ada pembahasan rokok yang menjadia penting.


Bagaimana strategi capres atasi kerugian kesehatan akibat rokok?
Pembahasan ini melibatkan dua narasumber yakni Prof.Dr. Hasbullah Thabrany  dari Tim Kampanye Nasional (TKN) Joko Widodo- Ma'ruf Amin dan dr. Harun Albar SpA, MKes. dari Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo Subianto - Sandiaga Uno.
Merokok merupakan penyakit tidak menular lambat laun dari efeknya itu akan menjadi beban pemerintah yang tinggi diera jaminam kesehatan nasional.
Perokok aktif/pasif akan menyebakan ketergantungan nikotin.
Bahaya nikotin ini mungkin sama dengan bahaya narkoba lama kelamaan. Nikotin akan menjadi candu untuk yang menghisapnya.

Pemerintah melalui TKN sudah mengambil kebijakan tentang rokok saat ini. Dibeberapa tempat umum sudah terlihat larangan untuk merokok, salah satunya adalah stasiun. Di dalam kereta apipun lain dulu lain sekarang ketahuan merokok bisa didenda. Semua sudah ada aturannnya, telah disediakan tempat khusus untuk merokok, jadi tidak lagi mengganggu kepentigan umum.

Sedangkan dari pihak BPN menyikapi apabila harga rokok dinaikan,berapapun harganya bagi mereka yang sudah kecanduan tak akan menjadi masalah. Kenaikan harga rokok justru berpengaruhnya kepada perokok pemula.
Harga rokok yang tinggi bisa kebeli, mendingan uangnya dipakai untuk membeli makanan begizi sang buah hati.

Credit foto by twitter

Disini yang dibutuhkan masyarakat adalah pengedukasian dari pemerintah siapapun presidennya yang terpilih nanti.
Sebenarnya untuk berhenti merokok jika ditanyakan kepada masing-masing individu yang merokok memang tidak mudah seperti membalikan telapak tangan. Semua usaha yang dilakukan harus ada kemauan pada diri sendiri. Stop rokok harus ada kesadaran kembali kemasing-masing individu. Yang harus dicegah adalah perokok pemula yang belum begitu kecanduan sebelum terlanjur mencintai nikotin.
Melalui Radio KBR kedua narasumber menyimpulkan sebagau berikut ;

Hasbullah Thabrany mengatakan ;
" Mengendalikan penyakit menular maupun tidak menular dan komit mengendalikan konsumsi tembakau bukan menghabiskan konsumi rokok tapi pengendalian untuk membantu kontrol."

Sedangkan Harun Albar ;
" Bahagia tanpa nikotin dan peduli kesehatan"

Kita tahu dari merokok akan menimbulkan berbagai penyakit yang bisa mematikan, jadi sekarang pilih sehat atau sakit?

Untuk info lebih lanjut bisa dilihat di :
IG : @KBR.ID
Twitter : @hallokbr
Web : KBR.ID



Tidak ada komentar:

Posting Komentar